Liem Kevin Ungkap Prospek Bisnis Bakery

Liem Kevin Gunawan, pemilik Nessa Bakery dan Keuken Noona Manis – Istimewa

Bisnishotel.id, BANDUNG — Liem Kevin Gunawan, pemilik Nessa Bakery dan Keuken Noona Manis sekaligus salah satu finalis MasterChef Indonesia Season 3, melihat bisnis bakery dan pastry di Indonesia masih memiliki prospek yang besar. Ia menilai peluang tersebut terbuka seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk lokal berkualitas dan tren kuliner yang terus berkembang.

Kevin mengatakan pengalaman mengikuti MasterChef Indonesia menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya di industri kuliner. Meski awalnya mengikuti ajang tersebut karena iseng, pengalaman itu kemudian membuka jalan baginya untuk lebih dikenal dan terjun lebih jauh ke bisnis food and beverage (F&B).

“Jujur, waktu itu iseng banget untuk ikut MasterChef Indonesia. Namun, MasterChef Indonesia juga menjadi batu loncatan untuk karier saya di dunia kuliner dan dunia F&B,” kata Kevin saat ditemui Bisnishotel.id, di Kota Bandung, Jumat (7/8/2026).

Saat ini, Kevin mengembangkan bisnis keluarga sekaligus membangun merek kulinernya sendiri. Ia menjelaskan, bisnis keluarga tersebut telah berjalan sejak 1998, sedangkan merek yang dibangunnya sendiri baru berusia sekitar satu tahun.

Menurut Kevin, motivasi mengembangkan usaha bakery berasal dari keinginannya menghasilkan produk yang lebih enak dan berkualitas. Ia juga ingin produknya dapat dinikmati lebih banyak orang dan suatu saat menjadi salah satu pilihan oleh-oleh bagi wisatawan yang datang ke Bandung.

“Karena Bandung juga pusat kuliner, saya ingin nantinya produk-produk saya bisa menjadi oleh-oleh untuk orang-orang yang datang dari luar kota,” jelasnya.

Salah satu pendekatan yang digunakan Kevin adalah memadukan makanan tradisional atau klasik dengan sentuhan modern. Strategi tersebut membuat produk tetap familiar bagi konsumen Indonesia, tetapi memiliki karakter yang berbeda dari produk bakery lainnya.

Kevin mengatakan konsistensi rasa menjadi tantangan utama dalam menjalankan bisnis kuliner. Selain itu, pelaku usaha harus mampu melakukan pemasaran, menjaga kualitas, serta menciptakan produk yang memiliki pembeda tanpa kehilangan penerimaan pasar.

Di tengah perubahan tren kuliner, Kevin memilih tidak sekadar mengikuti tren. Ia tetap mencari inspirasi dari perkembangan kuliner di luar negeri, tetapi menyesuaikannya dengan karakter dan identitas produk yang dikembangkan.

“Yang penting selain mengikuti tren, kita tidak boleh kehilangan identitas kita,” katanya.

Pengalaman sebagai finalis MasterChef Indonesia juga menjadi modal dalam membangun personal branding. Menurut Kevin, popularitas dari televisi dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan produk, tetapi kepercayaan konsumen tetap ditentukan oleh kualitas makanan.

Ia menilai konsumen tidak cukup hanya mengenal sosok di balik sebuah merek. Konsumen tetap perlu mencoba produk dan merasakan kualitasnya sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali membeli.

“Dikenal saja tidak cukup. Pelanggan harus melihat dan mencoba produk saya, kemudian menilai rasanya. Popularitas dari MasterChef menjadi pintu yang membuka jalan, tetapi setelah itu kami harus menjaga kualitas agar pelanggan tetap percaya,” tuturnya.

Untuk saat ini, penjualan produknya masih berfokus pada toko fisik. Kevin menyebut keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu alasan bisnis tersebut belum sepenuhnya mengembangkan kanal penjualan daring. Namun, ia mulai menerima pesanan secara pre-order.

Toko Nessa Bakery berlokasi di Jalan Cicendo Nomor 11, Kota Bandung dan beroperasi setiap hari. Jam operasional berlangsung pukul 07.00–18.00 WIB untuk hari Senin – Sabtu, sedangkan pada hari Minggu toko beroperasi dari pukul 07.00 – 15.00 WIB.

Dari sisi pasar, Kevin membidik konsumen kelas menengah hingga menengah bawah. Namun, ia melihat karakter konsumen Jakarta yang memiliki preferensi berbeda karena sebagian konsumen di kota tersebut cenderung mengaitkan harga dengan persepsi kualitas produk.

Dalam satu bulan, omzet kotor bisnisnya berada di kisaran Rp60 juta hingga Rp100 juta. Kevin mengatakan angka tersebut sudah mampu menopang operasional dan kebutuhan sehari-hari, meski masih jauh dibandingkan dengan pemain bakery besar yang telah lebih dulu dikenal di Bandung.

Ke depan, Kevin ingin mengembangkan merek yang dibangunnya agar semakin dikenal melalui kualitas, kreativitas, dan inovasi. Ia juga ingin menghadirkan produk baru yang mudah diterima lidah masyarakat Indonesia dan dapat menjangkau segmen pasar yang lebih luas.

Menurut dia, peluang bisnis bakery dan pastry tetap terbuka meski persaingan semakin ketat. Pertumbuhan pelaku UMKM kuliner membuat pelaku usaha perlu memiliki identitas merek yang kuat, menjaga kualitas, dan terus berinovasi.

“Jangan takut untuk memulai. Jangan menunggu semuanya sempurna. Mulailah dari apa yang kalian punya, terus belajar, jangan cepat puas, dan jangan mudah menyerah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tren kuliner dapat berubah dari waktu ke waktu. Namun, kualitas, kejujuran, dan konsistensi menjadi fondasi yang menurutnya akan tetap dibutuhkan untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan.

Related posts