
Bisnishotel.id, CIREBON — Kinerja industri perhotelan di Kota Cirebon masih menghadapi tekanan pada April 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang dan nonbintang mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala BPS Kota Cirebon Samiran mengatakan TPK gabungan hotel berbintang dan nonbintang pada April 2026 tercatat sebesar 41,29%. Angka tersebut turun 4,30 poin dibandingkan April 2025 yang mencapai 45,59%.
“Secara tahunan terjadi penurunan tingkat hunian kamar hotel. Namun jika dibandingkan bulan sebelumnya, terdapat kenaikan tipis,” kata Samiran, dikutip Selasa (9/6/2026).
Secara bulanan, TPK hotel gabungan meningkat 0,35 poin dibandingkan Maret 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya perbaikan terbatas pada sektor akomodasi, meski belum mampu mengangkat kinerja industri secara signifikan.
Segmen hotel berbintang masih menjadi penopang utama industri perhotelan Cirebon. Pada April 2026, tingkat hunian hotel berbintang mencapai 49,19%, atau turun 4,43 poin dibandingkan April tahun lalu. Namun secara bulanan, segmen ini masih mencatat kenaikan 0,74 poin.
Menurut Samiran, tingkat hunian yang mendekati 50% menunjukkan hotel berbintang masih memiliki daya tarik lebih besar karena didukung fasilitas yang lebih lengkap serta permintaan dari pelaku perjalanan bisnis dan kegiatan pemerintahan.
Sebaliknya, tekanan lebih berat dialami hotel nonbintang. Tingkat hunian segmen ini hanya mencapai 22,31%, turun 5,12 poin dibandingkan April 2025 dan terkoreksi 0,32 poin dibandingkan bulan sebelumnya.
Rendahnya tingkat hunian hotel nonbintang menunjukkan masih ketatnya persaingan dalam industri akomodasi. Selain faktor fasilitas dan lokasi, kehadiran berbagai pilihan akomodasi alternatif turut memengaruhi keputusan wisatawan dan pelaku perjalanan dalam memilih tempat menginap.
Di tengah penurunan tingkat hunian, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) justru mengalami peningkatan. Pada April 2026, RLMT hotel berbintang dan nonbintang mencapai 1,31 hari, naik dari 1,28 hari pada periode yang sama tahun lalu.
BPS juga mencatat rata-rata lama menginap wisatawan mancanegara mencapai 2,16 hari, lebih tinggi dibandingkan wisatawan domestik yang tercatat 1,30 hari. Sementara itu, RLMT hotel berbintang mencapai 1,38 hari dan hotel nonbintang sebesar 1,03 hari.
Samiran menilai peningkatan lama menginap menjadi sinyal positif karena menunjukkan tamu yang datang cenderung bertahan lebih lama. Namun demikian, jumlah tamu yang menginap masih belum mampu menyamai capaian tahun lalu sehingga tingkat hunian hotel secara keseluruhan masih berada dalam tren penurunan.

