TPJF 2026 Hadirkan 100 Musisi

Lineup The The Papandayan Jazz Fest 2026 – Istimewa

Bisnishotel.id, BANDUNG — The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026 kembali digelar di The Papandayan Hotel Bandung pada 3–4 Oktober 2026. Memasuki penyelenggaraan ke-11, festival ini membidik penguatan ekosistem musik sekaligus peluang ekonomi dari sektor pariwisata dan industri kreatif di Kota Bandung.

TPJF 2026 mengusung tema “Sound to the Soul”. Festival tersebut akan menghadirkan lebih dari 100 penampil, enam panggung tematik, serta lebih dari 30 booth kuliner dan gaya hidup selama dua hari penyelenggaraan.

Skala acara tersebut menunjukkan bahwa festival musik tidak hanya menjadi ruang pertunjukan. Kehadiran musisi, komunitas, pelaku kuliner, dan pengunjung juga menciptakan aktivitas ekonomi yang terhubung dengan industri hospitality dan pariwisata.

Founder TP Jazz Bobby Renaldi mengatakan TPJF ingin memberikan pengalaman yang lebih luas kepada pengunjung. Menurut dia, musik menjadi medium untuk membangun koneksi antara penonton, musisi, dan ruang tempat festival berlangsung.

“Di tengah begitu banyaknya festival musik hari ini, kami percaya orang datang bukan hanya untuk melihat siapa yang tampil, tetapi untuk merasakan sesuatu yang tidak mereka temukan di tempat lain,” ujar Bobby dalam keterangan resmi kepada Bisnishotel.id, Kamis (27/8/2026).

Pada penyelenggaraan tahun ini, TPJF juga memperbesar porsi musisi jazz dibandingkan edisi sebelumnya. Sajian tersebut mencakup jazz tradisional, fusion, kontemporer, hingga proyek kolaborasi lintas genre.

Sejumlah nama telah masuk dalam fase pertama line-up. Pada hari pertama terdapat Dadaks, SND, Arumtala, SFG, SimakDialog, Barry Likumahuwa feat. Ambon Jazz Rock, Batavia Collective, Lalahuta feat. Rieka Roslan, Smoove, Diskoria feat. Andien, Ruth Sahanaya, serta The Gentlemen’s Club.

Pada hari kedua, festival menghadirkan 5 Petani, Barry Likumahuwa feat. TPJC Winner Players, Andre Dinuth Group feat. Matthew Sayersz, T-Five x Melly Mono, Freedom Jazz Society, serta proyek khusus Dwiki Dharmawan feat. Dira Sugandi, Dirly Dave dan Bandung Jazz Orchestra. Mahalini juga masuk dalam jajaran penampil hari kedua.

Dari sisi venue, The Papandayan Hotel menjadi pusat kegiatan sekaligus bagian dari pengalaman festival. Enam panggung ditempatkan di sejumlah area hotel, mulai dari TP Stage dan Pasar Jazz hingga Mojang Jajaka Stage, BRI Stage, Ron88 Stage, dan Kota Baru Parahyangan Stage sebagai panggung utama.

Konsep tersebut membuat aktivitas festival tersebar di berbagai ruang. Pengunjung tidak hanya menikmati pertunjukan utama, tetapi juga dapat mengakses area bazar, kuliner, produk hobi, dan aktivitas komunitas di Pasar Jazz.

Bagi industri hospitality, model festival seperti ini membuka peluang untuk menghubungkan aktivitas musik dengan kebutuhan akomodasi, makanan dan minuman, serta aktivitas wisata selama pengunjung berada di Bandung. Festival juga dapat memperkuat daya tarik hotel sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan berskala besar.

TP Jazz sendiri telah dikembangkan sejak 2013 melalui sejumlah program berkelanjutan. Program tersebut mencakup TP Jazz on The Weekend, TP Jazz Universe, TP International Online Jazz Competition, TP Podcast Resonance, hingga The Papandayan Jazz Fest sebagai agenda puncaknya.

Konsistensi penyelenggaraan menjadi modal penting bagi TP Jazz untuk membangun ekosistem. Selain menghadirkan musisi, rangkaian program tersebut juga diarahkan untuk mendukung komunitas dan meningkatkan apresiasi terhadap musik jazz di Indonesia.

Dari sisi pasar, antusiasme terhadap TPJF 2026 terlihat dari habisnya kuota Early Bird dan Pre-Sale. Penyelenggara kemudian membuka periode Pay-Day Sale pada 25–31 Agustus 2026, dilanjutkan Flash Sale 9.9 pada 9 September 2026.

Pada periode Pay-Day Sale, tiket Silver dibanderol Rp150.000 per hari dari harga publik Rp250.000. Sementara itu, Gold dijual Rp325.000 per hari dari harga publik Rp400.000, sedangkan Platinum 2-Day Pass ditawarkan Rp500.000 dari harga publik Rp750.000.

Strategi harga tersebut memberikan pilihan berdasarkan durasi dan akses pertunjukan. Penyelenggara juga menerapkan jumlah tiket promo yang terbatas sehingga penjualan dapat diarahkan untuk membangun momentum menjelang hari pelaksanaan festival.

Dalam jangka lebih panjang, TP Jazz menargetkan rangkaian kegiatannya dapat berkontribusi terhadap posisi Bandung sebagai destinasi wisata musik. Program seperti kompetisi jazz, master class, jazz untuk anak, pasar jazz, dan festival tahunan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem tersebut.

Dengan penyelenggaraan ke-11, The Papandayan Jazz Fest tidak hanya mempertahankan agenda musik tahunan. Festival ini juga memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan ekonomi kreatif, hospitality, komunitas, dan pariwisata di Bandung.

Related posts